100 Tahun Kebangkitan Nasional Pendidikan dan Pemerdekaan

100 Tahun Kebangkitan Nasional Pendidikan dan Pemerdekaan

Oleh Tonny D Widiastono

Ketika mendirikan Taman Siswa pada 3 Juli 1922, Ki Hadjar Dewantara sesungguhnya hanya ingin menumbuhkan kesadaran bahwa bangsa ini memiliki martabat dan harapan untuk menjadi manusia merdeka. Hasilnya, kesadaran sebagai bangsa yang bermartabat dan berkeinginan untuk merdeka pun tumbuh. Baca selebihnya »

Becermin BHMN, Menolak BHP

Sabtu, 27 Desember 2008 | 00:34 WIB

Ali Khomsan

Lahirnya UU Badan Hukum Pendidikan disikapi dengan penolakan dari berbagai kalangan. Meskipun DPR menggaransi bahwa UU BHP tidak akan menyebabkan biaya studi di perguruan tinggi semakin mahal, tampaknya hal ini belum bisa diterima. Baca selebihnya »

Ta’aruf dalam Islam

Ta’aruf yuk……..

بِسْمِ اللهِ، الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ

Pacaran adalah haram dalam Islam. Pacaran adalah budaya dan peradaban jahiliah yang dilestarikan oleh orang-orang kafir negeri Barat dan lainnya, kemudian diikuti oleh sebagian umat Islam (kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala), dengan dalih mengikuti perkembangan jaman dan sebagai cara untuk mencari dan memilih pasangan hidup. Syariat Islam yang agung ini datang dari Rabb semesta alam Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, dengan tujuan untuk membimbing manusia meraih maslahat-maslahat kehidupan dan menjauhkan mereka dari mafsadah-mafsadah yang akan merusak dan menghancurkan kehidupan mereka sendiri. Baca selebihnya »

MENGHITUNG PELUANG PKS DI PEMILU 2009

Tahun 2004 mungkin menjadi salah satu momentum yang paling mengesankan bagi aktivis Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Betapa tidak, sempat tidak lolos electoral threshold untuk ikut pemilu 2004, namun justru menjadi “bintang” di pemilu 2004 setelah berubah menjadi PKS (sebelumnya bernama Partai Keadilan). Tidak saja aktivis PKS yang terhenyak atas fenomena PKS di 2004, namun public dan analis politik secara keseluruhan memberikan apresiasi atas prestasi PKS masuk dalam big seven pemenang pemilu 2004. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah fenomena baru dalam kancah perpolitikan Indonesia. Di tengah euphoria parpol pasca reformasi, PKS menghadirkan prototype partai yang berbasis kader-ideologis. Sepanjang sejarah perpolitikan nasional, tidak banyak partai yang mampu menghadirkan konstruksi parpol yang berbasis kader ideologis. Mungkin parpol yang sejenis adalah Partai Komunis Indonesia di zaman pemilu 1955. Yang menegaskan persamaan diantara keduanya adalah PKS dan PKI memiliki landasan ideologi politik yang kuat serta penguatan dan konsolidasi internal yang rapih melalui proses pengkaderan yang sistematis. Banyak parpol lain yang hanya mengandalkan mobilitas dan kohesivitas nilai ideologis, namun melupakan proses pengkaderan. Akhir-akhir ini, mayoritas parpol yang lahir adalah parpol yang tidak memiliki keduanya Baca selebihnya »

Cintaku untukmu Ya Rabbi

Nafasmu adalah amanahmu..

Buatlah ia semakin mmburu saat berjuang karena-Nya

dan semakin mendesah saat berserah diri pada-Nya

Semoga Allah berkenan mengabadikan nafas ini

di jannah-Nya Baca selebihnya »

Pendidikan dan pembebasan

Paulo Freire, Islam dan Pembebasan

Agama-agama bagaikan pedang bermata dua. Ia bisa tajam menohok dan mengakhiri suatu kekuasaan yang menindas, atau pada sisi yang lain, agama bisa juga dengan tajam melegalisasi serta menjadi alat penindasan suatu rejim. Sejarah umat manusia membuktikan bahwa agama melalui instrumen hegemonik, hirarkhis dan aturan ketaatannya, lebih berperan sebagai alat kekuasaan untuk melegalisasi praktek represif yang dijalankan untuk melanggengkan kekuasaannya. Hal itulah yang dituliskan oleh KH. Mahfuz Ridwan, Lc., dalam pengantarnya bahwa situasi penindasan yang mengungkung suatu masyarakat biasanya bertahan lama ketika agama mulai ditampilkan sebagai alat untuk melegitimasi situasi yang tidak manusiawi (hlm. xvii). Pesan itu pun kembali disuarakan oleh Muhaimin Iskandar dalam catatan epilognya dengan mengutip pendapat Karl Marx yang mengatakan bahwa agama adalah salah satu bentuk keterasingan manusia dari ketertindasan. Kegagalan agama untuk membawa pembebasan dari ketertindasan itu, telah menyebabkan agama menjadi candu rakyat yang tidak mampu memberikan solusi yang nyata bagi rakyat (hlm. 186).

Pendidikan yang Membebaskan

Penulis buku ini; Hanif, mencoba untuk menggali kembali hakekat keberagamaan yang seharusnya ditampilkan oleh manusia beragama. Dengan memakai cermin praktek pendidikan yang membebaskan sebagaimana dilakukan oleh Paulo Freire di Brazil pada paruh 1960-an. Menurut Freire, kala itu pendidikan di Brazil (dan mungkin masih terjadi sampai kini di banyak negeri, termasuk Indonesia) telah menjadi alat penindasan dari kekuasaan untuk membiarkan rakyat dalam keterbelakangannya dan ketidaksadarannya bahwa ia telah menderita dan tertindas. “Pendidikan gaya Bank”, dimana murid menjadi celengan dan guru adalah orang yang menabung, atau memasukkan uang ke celengan tersebut (hlm. 6), adalah gaya pendidikan yang telah melahirkan kontradiksi dalam hubungan guru dengan murid. Lebih lanjut dikatakan, “konsep pendidikan gaya bank juga memeliharanya (kontradiksi tersebut, pen) dan mempertajamnya, sehingga mengakibatkan terjadinya kebekuan berpikir dan tidak munculnya kesadaran kritis pada murid” (hlm. 47). Murid hanya mendengarkan, mencatat, menghapal dan mengulangi ungkapan-ungkapan yang disampaikan oleh guru, tanpa menyadari dan memahami arti dan makna yang sesungguhnya. Inilah yang disebut Freire sebagai kebudayaan bisu (the culture of silence). Baca selebihnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.